Oleh : Haritsma Hamman*
Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, seharusnya lebih memilih sistem syariah dalam melakukan bisnisnya. Tapi yang terjadi tidak seperti itu. Justru yang terjadi adalah orang Islam sendiri tidak tahu sistem yang syariah itu seperti apa.. Selanjutnya, bahwa selama ini masyarakat belum mengenal bank syariah secara menyeluruh. Masih banyak kelompok masyarakat yang masih asing terhadap bank syariah walaupun masyarakat itu beragama Islam. Bahkan, boleh jadi fatwa keharaman bunga bank belum diketahui oleh semua masyarakat. Komunikasi yang dilakukan selama ini belum efektif dan belum menyeluruh. Hal ini terbukti dengan pangsa pasar bank syariah yang belum mencapai 5,25%.

Memasarkan bank syariah menajdi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan, alasannya adalah : Pertama, umat Islam harus segera diselamatkan dari keharaman bertransaski yang berbau bunga bank sehingga bank syariah adalah media yang tepat untuk melakukan transaksi keuangan pengganti bank konvensional yang menggunakan bunga. Kedua, jelas terbukti bahwa sistem keuangan yang berlandaskan pada sistem syariah lebih tahan dan kuat menghadapi krisis moneter yang melanda. Terbukti, bahwa sistem ekonomi syariah lebih unggul dari sistem manapun juga. Ketiga, semakin banyak pihak yang terlibat dalam transaksi keuangan yang berlandaskan syariah maka akan semakin cepat pembangunan ekonomi suatu negara untuk menuju kepada kemakmuran. Hal itu terbukti ketika zaman Rasulullah dan para sahabat. Keempat, keberhasilan promosi dan edukasi terhadap masyarakat akan mendorong terhadap peningkatan pertumbuhan asset perbankan. Selama ini kedua hal tersebut belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembanagn bank syariah. Menurut data statistik perbankan syariah BI (November:2009) bahwa total rekening bank umum dan unit usaha syariah baru mencapai 5.074.968. Biaya promosi yang dilakukan oleh bank syariah cukup besar, data statistik perbankan syariah BI (September 2009) menunjukan bahwa biaya promosi dan edukasi yang telah dikeluarkan mencapai Rp.155 miliar,-. Namun, kita pun harus mencermati hasil yang telah diperoleh dari biaya yang telah dikeluarkan tersebut. Apakah sudah sesuai harapan atau belum. Penulis yakin bahwa harapan yang dituju belum tercapai.

Salah satu cara yang efektif dan sangat mungkin untuk dilaksanakan untuk memasarkan perbankan syariah adalah dengan cara viral marketing. Menurut James Widyaharsana, viral marketing merupakan teknik pemasaran dengan menggunakan jaringan sosial untuk mencapai suatu tujuan pemasaran tertentu yang dilakukan melalui proses komunikasi yang secara berantai memperbanyak diri. Dengan cara ini perbankan syariah tidak akan mengelurkan biaya yang begitu besar untuk mendapatkan konsumen, justru konsumen itu sendiri yang akan menjadi tenaga pemasar bagi industri. Karena, mereka yang merasa terpuaskan oleh pelayanan yang diberikan oleh perbankan akan mensugesti orang lain agar merasakan hal yang sama dengan mereka. Sugesti yang diberikan itu menjadi motor penggerak dalam viral marketing. Viral marketing juga bisa dikatakan sebagai pemasaran dari mulut ke mulut.

Pada prakteknya, masyarakat belum tentu tertarik untuk menjadi nasabah bank syariah dengan melihat iklan di media massa. Bisa jadi mereka tertarik karena mendengar sesuatu yang menarik dari orang lain yang dipercaya dan telah menjadi nasabah bank syariah, ini akan menjadi referensi yang cukup kuat dalam pengambilan keputusan bagi calon nasabah bank syariah tersebut. Bisa kita bayangkan, jika strategi ini dilakukan dengan sangat terorganisir dan terbukti ampuh maka industri perbankan syariah bisa menekan biaya pemaarannya dan pangsa pasar pun akan meningkat. Penulis beranggapan bahwa strategi ini belum dilakukan secara terorganisir oleh indusri perbankan syariah karena untuk melakukannya diperlukan rencana yang matang agar tujuan yang diinginkan dapat dicapai.
*) Penulis adalah mahasiswa S1 jurusan Manajemen Perbankan Syariah STEI SEBI.